Thursday, June 20, 2019
Dunia

Saintis Menemukan Alat Agar Anda Bisa Bunuh Diri Dengan Lebih Efektif

Dengan mesin yang disebut Sarco ini, kelompok advokasi Euthanasia menyebut-nyebut Anda akan dapat bunuh diri dengan lebih … bahagia, efektif dan efisien. Apa?? “Sarco tidak menggunakan obat terlarang, atau memerlukan keahlian khusus seperti penyisipan jarum ke dalam nadi” kata Dr. Philip Nitschke. Beliau adalah pendiri Exit International yang kontroversial, yang misinya adalah “mendukung mereka di akhir keputusan hidup mereka”.

“Siapa pun yang bisa lulus tes masuk, maka ia dapat memasuki mesin dan mengakhiri hidup mereka secara legal,” kata Nitschke, seorang mantan dokter yang membantu empat kasus bunuh diri di Australia pada akhir 1990an di bawah Hak Asasi Manusia Untuk Hidup Singkat bagi Kasus-Kasus Penyakit Fatal, di Tahun 1995.

Seperti dilaporkan dalam Christian Headlines, Sarco hadir dalam dua bagian: sebuah basis mesin yang dapat digunakan kembali dan sebuah kapsul yang dapat dilepas dan digunakan sebagai peti mati. Keduanya bisa dibuat pada printer 3D dan dirakit di mana saja. Desainnya akan bebas dan open source dan ditempatkan di Internet, kata pembuatnya.

Cara menggunakan Sarco cukup mudah. Pengguna potensial harus melengkapi kuesioner online tentang kejiwaan untuk mendapatkan kode empat digit yang akan membuka kapsul. Begitu masuk, pengguna menutup tutupnya dan menunggu nitrogen cair menurunkan kadar oksigen.

Hanya dalam beberapa menit, semuanya berakhir. Kapsul tersebut dapat dilepas untuk digunakan sebagai peti mati.

Apakah Euthanasia Itu?
Eutanasia (dari bahasa Yunani: ευθανασία -ευ, eu yang artinya “baik”, dan θάνατος, thanatos yang berarti kematian) adalah praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan.

Sejauh ini eutanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia serta ditoleransi di negara bagian Oregon di Amerika, Kolombia dan Swiss dan dibeberapa negara dinyatakan sebagai kejahatan seperti di Spanyol, Jerman dan Denmark.

Namun dari sudut pandang agama, secara umum seluruh agama melarang umatnya melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri, termasuk juga bunuh diri.

Karenanya, alat penemuan Bunuh Diri dari Dr. Nitschke tentu menimbulkan pro kontra.

Kasus Euthanasia di Indonesia
Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada tanggal 22 Oktober 2004 telah diajukan oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma karena tidak tega menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan di samping itu ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya perawatan merupakan suatu alasan pula. Permohonan untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk eutanasia yang di luar keinginan pasien. Permohonan ini akhirnya ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan setelah menjalani perawatan intensif maka kondisi terakhir pasien (7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan dalam pemulihan kesehatannya